Rabu, 30 November 2011

curhat tidak boleh menyesal

Sekarang, dia sudah lulus SMK ternama di Kabupaten Sukoharjo. Beberapa waktu lalu bertemu dengan saya. Dia bercerita banyak hal setelah lulus dari SMK. Kebetulan saya adalah salah satu guru mengajar di sekolah tersebut.
Dia curhat, “Saya pergi ke Kediri beberapa waktu lalu, pak. Saya merasa iri kepada warga di desa tersebut. Dari anak-anak sampai kakek-kakek/nenek-nenek bisa ngomong bahasa Inggris. Dibandingkan dengan saya yang sudah lulus SMK jauh di bawahnya kemampuan bahasa Inggrisnya. Mereka mahir speaking English.” Kurang lebih seperti ini curhatnya kepada saya.
Tanggapku, “Bapak pernah dengan informasi tempat itu.”
Dia melanjutkan curhatnya, “Saya merasa menyesal sekali. Saat aku sekolah di SMK malas, jarang memperhatikan penjelasan guru. Bahkan aku acuh mendengarkan contoh speakingnya. Pada saat itu, pikirku apa gunanya mahir bahasa Inggris. Aku kan anak SMK. Yang penting adalah kemampuan teknik produktifnya.”
Saya pun merespon, “Bapak senang mendengarnya. Alangkah baiknya jikalau adik-adik kelas kamu menyadari akan hal itu, pasti mereka akan lebih serius belajarnya.”
Tak perlu menyesali kalau kita belum mahir speaking English. Yang penting, kita memperbaiki kealfaan kita itu. Kemudian melakukan perbaikan. MENYESAL saja tidak cukup. PERLU ada aksi PERUBAHAN SIKAP, tegasku padanya.
Itu adalah catatan curhat dari murid saya.

media curhat guru

Profesi guru sekarang ini bukan lagi sebagai alternatif ke sekiannya. Bahkan banyak beberapa daerah yang mencoba mengangkat siswa-siswa SMA yang mempunyai kemampuan tinggi untuk dipersiapkan jadi tenaga pendidik. Dengan menyiapkan lebih intensif.
Kondisi lain dibeberapa daerah, profesi guru lebih membahagiakan dibanding profesi pendidik lainnya. hal ini menunjukkan saat ini profesi guru sudah mulai mendapat posisi lebih tinggi dikalangan masyarakat.
Sesuai dengan kondisi tersebut, ada pertanyaan yang cukup memerlukan ketulusan hati dan keseriusan dikalangan guru, yaitu sejauh mana kondisi kesiapan guru dalam mempersiapkan anak-anak bangsa, yang selama ini selalu dikaitkan dengan kondisi negara yang belum terlalu mengembirakan. disaat kondisi ini bergulir, keberadaan sang guru selalu dipertanyaka.
Pada kesempatan ini kami menghimbau kalangan teman guru untuk selalu meningkatkan kemampuan baik dari penguasaan disiplin ilmu masing-masing maupun kemampuan mendidik yang belakangan ini terkesan agak kurang. Dan yang paling penting lagi yaitu kesiapan menjawab tantang dunia global.
sekian dulu, ditunggu Komentarnya bagi yang mampir di sini.

curhat

1
Aku nggak tau apa yang aku rasain, jujur aku belum bisa mensyukuri apa yang Tuhan telah kasih ke aku. Karena aku merasa diriku adalah orang yang paling tidak beruntung diantara orang-orang yang aku kenal. Terkadang aku merasa iri sama mereka. Kok bisa ya, kok bisa mereka itu cantik, putih, kaya, terkenal, dan pintar. Kok aku enggak ? Yang setiap kali aku ingin menangis, ingin teriak ! Apalagi saat aku mulai merasakan ada seseorang yang membuatku jatuh cinta. Seseorang itu sangat berarti buat aku, seakan aku merasa dia yang terhebat untuk aku, tapi aku bukan apa-apa untuk dia , dan bahkan tak sedikitpun dia mengenal aku ! Ya Tuhan, dia ganteng sedangkan aku jelek ! setiap kali aku mengharap untuk bisa bersamanya , tapi aku merasa bodoh banget udah berharap kayak gitu. harapan yang konyol. Aku sadar kok, orang seperti dia hanya untuk cewek-cewek yang kaya, putih, cantik pastinya. Dan aku ? pasti nggak ada apa-apanya di matanya. Apa benar cinta itu hanya untuk orang-orang cantik saja ? Apa benar orang sepertiku tidak layak dapatkan cinta ?
Tuhan, aku juga mau cantik seperti mereka, aku juga mau kulit putih seperti mereka, aku juga mau kaya seperti mereka Tuhan :’( Aku juga mau rasakan cinta darinya.
Aku mau menyentuhnya Tuhan. Aku mau dia mengerti aku.

Selasa, 29 November 2011

curhatan seorang ibu

Curhat Ibu-Ibu --> Peran orang tua


dalam pembentukan karakter Anak

08/29/2008
----- Original Message -----

From: Lukie Damayanti

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Curhat Ismail (behaviour / SI ??)

Sudah sejak saya punya ponsel baru ituuuuu (weeee) anak2 suka tuh nyolong2

ngambil tuh ponsel sambil dimain-mainkan. Saya bosen and capee ngelarang2 anak2, ya dah kalo rusak ya nasib saya lagi... :-( Nah mereka suka nyoba2 pencet sana sini, foto ini itu, rekam short video ketawa ketiwi. Begitu juga nasib digicam kami. Saya sering sekali mergoki Ismail-lah yang memegang ponsel tsb, dan lama2 Rafii' (kakaknya) weleh, gak selera untuk pegang tuh ponsel.Akhirnya kepala saya udah scr gak sadar melabel "Ini ulah Ismail".

Yang Ismail suka adlah main game yg cuman satu itu : soccer. Lama2 dia apal

bendera-bendera negara dgn klub sepakbola dunia yg beken2. Dan nanya "Kenapa

gak ada Indonesia ya mi ??" (hiks). Sampai suatu ketika saya lihat hasil foto gak keru2an di digicam saya ada yg menarik : bukti "kejahatan" Rizqi !!

Di foto itu (sequence) saya lihat Rizqi memanjat rak, kemudian foto lain dia mengambil ponsel dr atas rak yang sedang dicharge, foto lain dia memainkan ponsel di lantai dgn posisi ponsel masih di charge terjulur ke bawah..., sambil duduk di bantal! (sorry gak ada hubungannya tapi sekedar curhat betapa pusingnya dgn 3 kurcaci dekil ini). Nah ehhh saya kesalnya waktu ditanya (ponsel saya tinggal dicharge, kenapa ilang dr tempat nge-charge), si Rizqi bilang "gak tau miiiii, Ismail itu!!, Rizqi gak ambil...", begitu juga jawaban Rafii kakaknya, sampai saya guemes sama Ismail, berhubung saya juga dah melabel ini pasti Ismail)... Kadang2 saya rasa saudara2 Ismail memanfaatkan Ismail juga seh, saya khawatir deh... Rizqi ini paling galak sama Ismail, kecemburuannya pd Ismail sangat besar,

cenderung melukai dgn kekerasan (mukul, menggigit, dst...) dan taking advantage on him. Poor Ismail. Tapi Ismail ini emang super cengeng ...., tapi lembut hati, Gak pernah mau bales perlakuan kejam adiknya (baca: jarang) Tapi kalo dah puncaknya dihajar habis tuh Rizqi. Cuman sebelnya, sering mewek dan sedikit2 mengadu : "Mommy............Rizqi........., Mommy Rafii'........" Akhirnya sodara2nya kesal banget

Kembali ke lap top .....,

Akhirnya, saya sering mendapati ponsel saya mati (battnya abis, gara2 dimainkan mulu), dan itu bisa tergeletak dimana2. Setelah saya charge juga bisa ngilang gitu. Akhirnya saya sering mendapati message yg out of date!....

Saking senengnya Ismail mainkan tuh ponsel, kalo saya lagi absen dimana tuh anak, serempak kedua saudaranya (kakak dan adiknya) bilang "diatas, mainkan ponsel mommy!" Saya langsung mikir : "Autistic - attach to something..." wah gawat..... Apa karena saya dah mulai bocor2in tuh diet..., udah lama she mulai bocor2nya, tapi kenapa baru belakangan ini (bocor2 10 bulanan, sementara ponsel saya baru kira-kira 3 bulanan kalo gak salah). Suatu saat saya cuapek banget trus nidurin Rizqi di kamarnya bareng sama Rafii juga di bed terpisah. Nah siang2-sore gak ada orang sama sekali kecuali saya dan kurcaci tiga itu..., semuanya ngantuk dan tidur kecuali Ismail sendiri. Saya secara normal menghindari menempatkan Ismail pd situasi spt ini ..., tapi itu mata gak bisa "dijagrak" kelopak matanya.... Tapi yah dasar emak2, tuh

kesadaran separuh2, separuh masih bisa memonitor gerak Ismail, sedangkan raga saya tidur.... Saya sering begini ini, gak tahu kenapa. Belakangan saya tahu pd kondisi spt ini mahluk lain mudah memasuki kita (hhiiiiiiiiii ngeriiiii). Saya tahu Ismail hilir mudik, masuk kamar dimana saya tidur, keluar lagi, masuk kamar sebelah keluar lagi sambil bawa2 ponsel saya... (btw saya kalo tidur separuh mata aja yg tertutup wakakaka.... bener ... sampai sering dulu kakak saya bingung serta kecolongan). Trus lamaaa dia gak lewat2 lagi. Nah, saya jadi khawatir (otak saya) dan menyuruh raga saya untuk bangun..., dan mencarinya (khawatir bahaya).

Sontak saya tahu Ismail ada di kamar saya, dan saya kaget banget lihat ponsel saya "prothol" satu2...... Saat saya menegur dgn sekian desibel di belakangnya Ismail kaget dan panik. Dia bilang "minta maaf mami, aku cuma mau betulkan ponselMU (penyakit berbahasa dia)..." sambil buru2 meraih tangan saya, cium tangan (duh berasa maminya galak banget yak.... :-P, pdhl dia itu paling pinter ngambil hati dan tutur katanya lembut.. gak pernah berbicara dgn nada tinggi dan keras. Tapi teriak2 gak ada makna kalo kesal ya juga seh). Aku pikir walahhhhhhh emang daku gak ditakdirkan punya ponsel...... Tuh selongsong ponsel terpisah, tutup dan badan dgn machinenya, baterai ada di sebelah mana, ada pecahan bahan seupil, dan saat saya bereskan saya gak sadar ngeberesin kartu mentari perdana gratisan abis ikut lomba mewarnai yg saya simpan di laci.. Saya buru2 pasang tuh baterai, mereka2 bagian kecil yg prothol dan mencoba menghidupkannya. Ternyata hidup! Ughhhhh lega!...

Esoknya saya kepasar setelah anak2 sekolah. Menjelang ke pasar ditelpon tetangga. Trus stlh tahu saya mau ke pasar, tetangga nitip dua item untuk dibelanjain serta ngingetin saya bawa ponsel kalo2 dia mau titip lagi (saya gak biasa bawa ponsel :-P). Sepulang dr pasar saya langsung antar (sebelum pulang), eh dia bilang kurang satu item, dia sms katanya. Saya cek ponsel di rumah tetangga saya itu : gak ada tuh....!

Sampai rumah saya inget untuk tanya sesuatu ke ibu saya di Surabaya. Saya

telp pakai telp rumah. "detilnya sudah saya sms kan kata ibu saya...." Oh ya

nanti saya cek. Gak ada juga!.

Trus saya inget lagi kerjaan volunteer saya (volunteer selama 2 th starts on the day I move to BPN) Saya gak apal nomor koperasi dan kantin. Saya telp via ponsel. Lha kok "gak bisa digunakan" gitu kata2 dari jawaban yg saya dengar... Eh emang berapa sisa pulsa ?? Udah membayangkan abis, jangan2 dimainkan Ismail kemarin. Berhub saya pakai XL, saya lihat *123# lha kok jawabannya bukan sisa pulsa, tapi message bla bla bla.... Hahh ??? Kok mentari ????? Busyet! saya buka ponsel saya, dan emang bukan nomor saya yg XL!!! Dimana SIM card saya ???

"Ismailllllllllllllllllllll................!!!!!!!"

PANTESAN.........!!!!!!!!

Dia udah ganti dgn SIM CARD dari kartu PERDANA yg saya simpan di laci! Kok

ya bisaaaa gituuu, memisahkan sim card mungil itu dari kartu besarnya,

membuka dan melepaskan kartu XL saya, lalu memasang gantinya -- > mentari.

Pdhl NOKIA kan mesti sedikit dicungkil, disliding, lalu ditekan....

Dari mana dia tahu ??? Saya mesti buka manual saat pertama saya pasang krn

gak ngerti cara pasangnya, susah dibuka... (biasanya pakai Sonny Ericson).

Kok bisa2nyaaaaaaaa....

Sebetulnya ini bagian dari "attach" to something itu gak sih ???

Satu lagi kekhawatiran saya : belakangan ini kebiasaan buruknya duluuuuuuuu

dan udah hilang selama 2,5 th muncul lagi... : Menggobok2 pusarnya dimanapun

juga bagaimanapun juga : sambil duduk, sambil jalan, sambil lihat buku, apalagi tidur! Pendeknya satu tangan dia itu nempel ke pusar deh! Apa juga karena diet yg udah bocor2, tapi kenapa baru belakangan ini aja ?? Bagaimana pak Taufiq melihat hal ini ? Apa penyebabnya kira2 ? Nah yg bikin saya kaget komentarnya Rafii "Mi, Ismail tuh ubek2 puser lagi.... aneh! bawa aja ke dokter mi!" Halah..... pusing!

Satu lagi Ismail ini susah sekali diajari mengayuh sepeda, seperti gak punya tenaga untuk menekan pedal sepeda. Sementara kalo berenang gerakan kakinya yang cipak cipuk air (atas bawah) bagus dan cepat... Gimana ya ngajarinnya ???

Kalo pendekatan mbakyu Ita gimana nih ? Ada saran ??

Tapi lucu juga loh, pernah sambil dia ngomong ke saya tentang sekolahnya,

matanya ngelirik ponsel yg tergeletak di meja samping saya, tangannya obok2

udel ... mendekat ke meja , lalu keduluan saya ngomong "hayooooo mau ambil

ponsel mommy yaaaa !", langsung dia nyengir melihat mata saya sementara

tangannya yg satu tetep pegang pusar, dan tangannya yg lain pegang meja

dimana saya taruh ponsel itu sembari berkata "enggak..., Ismail cuman pegang

meja kok!" NGELESSSS tuh anak! WOW bisaaaaaa aja!!!! Dgn senyuman tengil

lagi!

Saya bingung nih, semakin besar dan semakin komunikatif, saya justru gak tau

mesti ngapain sama Ismail. Sementara perilakunya yah masih aneh2, tapi dia

bisa menjelaskan!

Kayak kemarin saya dapet surat pemberitahuan dr sekolah Ismail yang selintas

saya baca bahwa dia mesti bawa sikat gigi ke sekolah, ada kunjungan dokter gigi dst dst. Cuman saya lupa kapan...... Saya ubek2 rumah gak ketemu2 juga. Dgn agak2 mengeluh asal ngomong (gak yakin yg diajak omong ngerti) saya nanya Ismail sambil ngupas mangga (gak lihat mata Ismail, cenderung asal...) "Is, mommy cari2 tuh surat dr sekolah yg kemarin kok gak ketemu2 yaa.... kapan sih Ismail mesti bawa sikat gigi ??" desperado... Eh dia jawab "Kamis mommy, nanti Kamis ada dokter gigi". HAH saya terperanjat aseli!!! Trus saya iseng komentar "jadi besok ya......" Eh dia jawab "ya gak lah...., besok kan hari Rabu" ... usilnya kumat "Emang sekarang hari apa" - ngetest berlanjut "Hari ini kan Selasa mommy!" Halah.... menjelang berangkat sekolah (naik antar jemput) saya iseng lagi "Is, kamu gak pakai dasi kayak mas Rafii'?" mereka brangkatnya dgn antar jemput yg sama. Ismail bilang "Gak lah.... skg kan Selasa!, pakai dasi kalo Senin!" BUSYETTTTTTTTT !!! Dia jauh lebih ADVANCE dari kakaknya : Rafii' yg dah kls 3 itu!

Oalah.... sometime saya pikir dia hebat banget, tapi disaat bersamaan

tingkahnya masih aneh2 banget!!

Ada yg punya situasi yg sama dgn saya gak yah ?? Saya malah jadi out of

focus dgn kondisi Ismail skg... :-( Helppppppp

Salaam,

Lukie

komunitas pencinta puisi

Mimpi anak-anak

Melompati pagar berduri siang hari
Menghambur sambangi tanah lapang berilalang
Mengarungi air hingga tengah telaga

Tawa riang, cahaya di binar mata itu ada

Serantang bekal mimpi tentang matahari
Saat awan kelabu, melompat girang menanti hujan
lalu berlari hingga batas langit menunggu pelangi

Anakanak dan khayalan seribu cahaya bintang
Lalu Menembang rembulan, memanggilnya turun saat malam
menunggu kunangkunang sinari wajahnya

bermimpi tentang ayah dan ibu yang menggantung di langit
Melukiskan tawatawa suka dan celoteh yang sempurna

Atau memaknai aksara dan angka, menghitung bilangan hari dengan jemari

Anakanak mengeja namanya di setiap doa, ajari kita bahwa rindu dan cinta itu ada

curhat bisnis pendidikan

Re: [CURHAT] Daku tak paham "Bisnis Pendidikan"

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ibu Arie Yth...

Kenyataannya memang begitu kok Bu, mereka skrg lebih mengutamakan
komitmen orangtua untuk berpartisipasi dalam komunitas sekolah alam
secara total sampai ada pertanyaan: apakah anda bersedia bolos kerja
demi kegiatan sekolah anak, bukan cuma ibunya saja tapi juga
bapaknya, jika bapaknya ada meeting penting di kantor & outing di
sekolah alam mana yang didahulukan, apakah rela menyumbangkan apa
saja demi sekolah dll.

Anehnya lagi ada email2 japri pembelaan dan sanggahan dari pihak2 yg
mengaku sebagai komunitas orang tua murid sekolah alam sampai capek
saya membacanya, mereka sangat bangga dengan komunitasnya dan
menganggap kegagalan saya dalam interview akibat saya berpikir
sekolah adalah tetap penitipan anak & saya oang tua yang tidak
komitmen terhadap pendidikan anak, siapa mereka gitu lho, baru
ketemu sekali hari itu sudah lancang menilai saya yg membesarkan
anak saya hampir 7 tahun ini sebagai orangtua tidak punya komitmen?.

Lalu minat & bakat anak saya yg sangat mencintai alam & lingkungan
sama sekali mereka abaikan, mereka cuma perlu satu hal; komitmen
orangtua untuk membiayai sekolah secara urunan di luar uang pangkal
& SPP, minat anak saya kepada alam & lingkungan?, sptnya tidak
penting di sekolah alam...

Anak saya mau masuk SDIT dekat rumah, minatnya kepada alam akan saya
fasilitasi dengan sekolah alam sesungguhnya bukan yg palsu seperti
di sekolah alam yg saya temui tsb, ada kolam ikan, ada kebun, ada
gazebo, outing ke alam, suasanannya pedesaan, tapi terasa garing dan
hampa karena kehilangan makna, anak saya akan belajar langsung
kepada alam bersama teman, guru, & orangtuanya...

komunitas curhat muslim

Bismillah,
Sebagai seorang manusia, kesulitan hidup merupakan salah satu hal yg tidak mungkin dihindari. Kemiskinan, hutang, ujian tidak lulus, suami selingkuh, istri lari dari rumah, anak yg ugal2an, merupakan sebagian contoh dari kesulitan hidup tersebut.
Islam, sebagai solusi hidup, seringkali dilupakan. Akibatnya banyak orang stres dan mencari hal2 lain sebagai pelariannya. Mulai dari narkoba, sex bebas, hingga senjata pamungkas, bunuh diri, dijadikan solusi karena keterbatasan akal dan hati mereka untuk bisa mengatasi masalah yg dihadapi.
Sebagai contoh terakhir adalah bunuh dirinya seorang lelaki di masjid Istiqlal saat sholat Idul Fitri lalu. Dari beberapa berita yg saya baca, lelaki itu sempat mondar mandir berkali-kali sebelum melakukan bunuh diri. Dari hasil penyelidikan lebih lanjut, diketahui bahwa lelaki tersebut sedang mengalami kesulitan hidup. Saya yakin, pria tersebut sudah berada dalam keadaan linglung, dengan pikiran yg tidak fokus, cenderung mengambang.
Itu satu contoh.
Contoh lainnya, seorang anak yang mencari pelampiasan ke minuman keras dan narkoba, karena kondisi keluarganya yg sedemikian semrawut. Klise memang, tapi contoh dari anak tersebut sebenarnya tidak hanya terjadi di golongan kaya, tapi juga di golongan miskin. Paling berbahaya memang jika terjadi di golongan miskin, karena mereka tidak mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Dari contoh kasus (yang sebenarnya masih banyak lagi contoh2 lain), sebenarnya yg dibutuhkan adalah komunikasi dan diskusi.
Manusia terkadang terlalu naif, bahwa masalah2 hidupnya bisa diatasi dengan materi. Padahal, sebenarnya lebih banyak lagi masalah yg bisa diselesaikan tanpa materi.
Maksudnya?
Kita ambil contoh orang yg bunuh diri itu. Sebenarnya, tindakan nekadnya itu bisa dicegah jika ada orang yg mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Barangkali tidak perlu memberi bantuan materi (uang), tapi bisa melampiaskan kekesalan dalam hati bisa jadi suatu hal lebih dari cukup.
Di beberapa negara maju, Amerika Serikat misalnya. Para pecandu narkoba bisa sembuh dari kecanduan, setelah mereka berkumpul dengan para pemakai, lalu masing2 curhat dan mengeluarkan unek2nya, dalam hal apapun. Masalah keluarga, pekerjaan, keuangan, dst dst dikeluarkan dalam grup itu. Mereka mengeluarkan isi hatinya, saling mendengar, saling memberikan solusi (meski hanya sekedar omongan) serta BERSIMPATI DAN BEREMPATI atas masalah yg diungkapkan rekan grupnya.
Dan hasilnya? Banyak para pecandu narkoba (dan minuman keras) yg akhirnya benar2 bisa sembuh.
Blog ini seringkali mendapat pertanyaan, baik berupa komentar ataupun email ke pemilik blog. Mereka mengeluhkan ini itu, bertanya ini itu. Mulai dari hal sepele, misalnya onani, keinginan nikah beda agama, dan banyak lagi.
Saya berusaha menjawab dan mencari solusinya, tentunya sebatas yang saya bisa (dengan sedikit ilmu yg saya ketahui). Dan seperti yg saya jelaskan di atas, kebanyakan dari mereka TIDAK BUTUH SOLUSI MATERI. Balasan 1-2 paragraf, yg menenangkan hati mereka, jauh lebih dibutuhkan.
Beberapa bahkan mengalami masalah keluarga yg sedemikian pelik, yg membuat saya menjadi (mesti) lebih banyak bersyukur lagi, karena jika saya yg mengalaminya, saya tidak yakin kuat menghadapi itu.
Sayangnya, saya belum menemukan komunitas curhat muslim, terutama muslim Indonesia.
Salah satu penyebabnya, ini baru prakiraan kasar saja:
1. Tidak ada uangnya.
Kondisi yg kian serba egois, materialistis, hedonis, membuat orang hanya berpikir materi sebagai solusi. Bahkan untuk mendengarkan pun, si ‘korban’ mesti mengeluarkan uang. Bukan berarti saya ‘menyalahkan’ para psikiater, karena mereka menuntut bayaran untuk curhat yg mereka dengar. Tapi, saya ‘menunjuk’ KITA….YA, SAYA DAN ANDA, yg barangkali tidak pernah berempati dan bersimpati kepada orang2 yg mengeluarkan curhat mereka pada kita, hanya karena anda tidak melihat keuntungan dari apa2 yg mereka ceritakan.
2. Bukan empati yg didapat, malah cacian, ancaman, dst.
Untuk poin 2 ini, saya hendak menyindir para ulama dan orang tua, yg begitu mudahnya marah dan mengeluarkan dalil2 ancaman neraka terhadap orang2 yg ‘tersesat’.
Sebagai contoh, ada 2 anak muda yg berzina hingga hamil. Bukannya berusaha untuk menenangkan hati keduanya, terlebih anak perempuan yg sudah hamil, para orang tua (dan juga ada ulama) malah memakai dalil untuk mencap para pezina ini sebagai penghuni nereka.
Ada juga yg bercerita, katakan V, bahwa dia dimusuhi banyak orang karena dianggap merebut suami orang. Gara2nya, si bos, yg naksir dia, adalah suami dari seorang ibu. Baik, katakanlah dia ‘merebut’ suami orang, tapi kita toh mesti melihat dari sisi lain, sisi si bos, yg malah ‘menjanjikan’ macam2 kepada V.
3. Perlakuan yg tidak adil.
Ini terkait juga dg no 2. Kita sering melakukan tindakan tidak adil kepada orang yg curhat dan membicarakan masalahnya. Jika yg cerita adalah ‘musuh’ kita, kita cenderung mengabaikannya. Atau malah memberi saran yg ‘menjebak’, dalam artian, malah membuatnya kian sengsara dan terjerumus dalam kejelekan.
Sementara jika teman dekat yg bermasalah, apapun kita lakukan.
Sebenarnya, saya punya keinginan untuk mendirikan satu grup untuk diskusi atau curhat tentang masalah mereka. Hanya saja, saat ini yg bisa saya lakukan hanyalah diskusi via email atau mengirim pesan singkat melalui instant messenger.
Mengapa saya ingin membuat grup itu? Tidak lain untuk menumbuhkan rasa simpati dan empati, serta pada akhirnya saya akan lebih banyak lagi bersyukur bahwa kita ternyata jauuuhhh lebih beruntung dari orang lain yg mengalami masalah yg lebih berat.
Semoga satu waktu nanti, impian saya ini bisa terwujud. :-)
Tapi setidaknya, mulai hari ini anda bisa mulai lebih bersimpati dan berempati pada orang2 yg curhat kepada anda.