Jumat, 25 November 2011

curhat anak rajin

Pada suatu waktu, hiduplah seorang anak yang rajin belajar. Mogu namanya. Usianya 7 tahun. Sehari-hari ia berladang. Juga mencari kayu bakar di hutan. Hidupnya sebatang kara. Mogu amat rajin membaca. Semua buku habis dilahapnya. Ia rindu akan pengetahuan. Suatu hari ia tersesat di hutan. Hari sudah gelap. Akhirnya Mogu memutuskan untuk bermalam di hutan. Ia bersandar di pohon dan jatuh tertidur. Dalam tidurnya, samar-samar Mogu mendengar suara memanggilnya. Mula-mula ia berpikir itu hanya mimpi. Namun, di saat ia terbangun, suara itu masih memanggilnya. “Anak muda, bangunlah! Siapakah engkau? Mengapa kau ada disini?” Mogu amat bingung. Darimana suara itu berasal? Ia mencoba melihat ke sekeliling. “Aku disini. Aku pohon yang kau sandari!” ujar suara itu lagi. Seketika Mogu menengok. Alangkah terkejutnya ia! Pohon yang disandarinya ternyata memiliki wajah di batangnya. null
“Jangan takut! Aku bukan makhluk jahat. Aku Tule, pohon pengetahuan. Nah, perkenalkan dirimu,” ujar pohon itu lagi lembut. “Aku Mogu. Pencari kayu bakar. Aku tersesat, jadi terpaksa bermalam disini,” jawab Mogu takut-takut. “Nak, apakah kau tertarik pada ilmu pengetahuan? Apa kau bisa menyebutkan kegunaannya bagimu?” tanya pohon itu. “Oh, ya ya, aku sangat tertarik pada ilmu pengetahuan. Aku jadi tahu banyak hal. Aku tak mudah dibodohi dan pengetahuanku kelak akan sangat berguna bagi siapa saja. Sayangnya, sumber pengetahuan di desaku amat sedikit. Sedangkan kalau harus ke kota akan membutuhkan biaya yang besar. Aku ingin sekali menambah ilmuku tapi tak tahu bagaimana caranya.” “Dengalah, Nak. Aku adalah pohon pengetahuan. Banyak sekali orang mencariku, namun tak berhasil menemukan. Hanya orang yang berjiwa bersih dan betul-betul haus akan pengetahuan yang dapat menemukanku. Kau telah lolos dari persyaratan itu. Aku akan mengajarimu berbagai pengetahuan. Bersediakah kau?” tanya si pohon lagi. Mendengar hal itu Mogu sangat girang. Sejak hari itu Mogu belajar pada pohon pengetahuan. Hari-hari berlalu dengan cepat. Mogu tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Pengetahuannya amat luas. Suatu hari pohon itu berkata, “Mogu, kini pergilah mengembara. Carilah pengalaman yang banyak. Gunakanlah pengetahuan yang kau miliki untuk membantumu. Jika ada kesulitan, kau boleh datang padaku.” Mogu pun mengembara ke desa-desa. Ia memakai pengetahuannya untuk membantu orang. Memperbaiki irigasi, mengajar anak-anak membaca dan menulis… Akhirnya Mogu tiba di ibukota. Di sana ia mengikuti ujian negara. Mogu berhasil lulus dengan peringkat terbaik sepanjang abad. Raja amat kagum akan kepintarannya. Namun, ada pejabat lama yang iri terhadapnya. Pejabat Monda ini tidak senang Mogu mendapat perhatian lebih dari raja. Maka ia mencari siasat supaya Mogu tampak bodoh di hadapan raja. “Tuan, Mogu. Hari ini hamba ingin mengajukan pertanyaan. Anda harus dapat menjawabnya sekarang juga di hadapam Baginda,” kata pejabat Monda. “Silakan Tuan Monda. Hamba mendengarakan,” jawab Mogu. “Berapakah ukuran tinggi tubuhku?” tanyanya. “Kalau hamba tak salah, tinggi badan anda sama panjang dengan ujung jari anda yang kiri sampai ujung jari anda yang kanan bila dirintangkan,” jawab Mogu tersenyum. Pejabat Monda dan raja tidak percaya. Mereka menyuruh seseorang mengukurnya. Ternyata jawaban Mogu benar. Raja kagum dibuatnya. Pejabat Monda sangat kesal, namun ia belum menyerah. “Tuan Mogu. Buatlah api tanpa menggunakan pemantik api.” Dengan tenang Mogu mengeluarkan kaca cembung, lalu mengumpulkan setumpuk daun kering. Ia membuat api, menggunakan kaca yang dipantul-pantulkan ke sinar matahari. Tak lama kemudian daun kering itupun terbakar api. Raja semakin kagum. Sementara Tuan Monda semakin kesal. “Luar biasa! Baiklah! Aku punya satu pertanyaan untukmu. Aku pernah mendengar tentang pohon pengetahuan. Jika pengetahuanmu luas, kau pasti tahu dimana letak pohon itu. Bawalah aku ke sana,” ujar Raja. Mogu ragu. Setelah berpikir sejenak, “Hamba tahu, Baginda. Tapi tidak boleh sembarang orang boleh menemuinya. Sebenarnya, pohon itu adalah guru hamba. Hamba bersedia mengantarkan Baginda. Tapi kita pergi berdua saja dengan berpakaian rakyat biasa. Setelah bertemu dengannya, berjanjilah Baginda takkan memberitahukanya pada siapapun,” ujar Mogu serius. Raja menyanggupi. Setelah menempuh perjalanan jauh, sampailah mereka di tujuan. “Salam, Baginda. Ada keperluan apa hingga Baginda datang menemui hamba?” sapa pohon dengan tenang. “Aku ingin menjadi muridmu juga. Aku ingin menjadi raja yang paling bijaksana,” kata raja kepada pohon pengetahuan. “Anda sudah cukup bijaksana. Dengarkanlah suara hati rakyat. Pahamilah perasaan mereka. Lakukan yang terbaik untuk rakyat anda. Janganlah mudah berprasangka. Selebihnya muridku akan membantumu. Waktuku sudah hampir habis. Sayang sekali pertemuan kita begitu singkat,” ujar pohon pengetahuan seolah tahu ajalnya sudah dekat. Tiba-tiba Monda menyeruak bersama sejumlah pasukan. “Kau harus ajarkan aku!” teriaknya pada pohon pengetahuan. “Tidak bisa. Kau tak punya hati yang bersih.” Jawaban pohon itu membuat Monda marah. Ia memerintahkan pasukannya untuk membakar pohon pengetahuan. Raja dan Mogu berusaha menghalangi namun mereka kewalahan. Walau berhasil menghancurkan pohon pengetahuan, Monda dan pengikutnya tak luput dari hukuman. Mereka tiba-tiba tewas tersambar petir. Sebelum meninggal, pohon pengetahuan memberikan Mogu sebuah buku. Dengan buku itu Mogu semakin bijaksana. Bertahun-tahun kemudian, Raja mengangkat Mogu menjadi raja baru.

curhat sahabat

Heya fellas,

Nama gw wulaan , gw ada masalah niih dengan dengan temen gw dikelas

Adakah yang bisa bantu gw .... ??

Gini yaaa ,,,, gw mau sedikit curhat * cielaaaaah bahasanya itu lhooo * hehhee

To the point aja yaa ..

Sebenarnya gwe pengen banget punya sahabat dan temen2 yang sayang dan peduli sama gw di kelas . Karena hampir 1 tahun lebih ini, gw belum punya sahabat yang sayang kecuali sahabat sebangku gw . Gw bersyukur punya soulmate yang sayang sama gw, tapi rasanya gw ingin menambah banyak sahabat yang banyak di kelas gue ini .

Entah kenapa rasanya suliiiiiit banget bisa dapetin sahabat yang sayang sama gw, padahal dari tiap tiap kelas, gw punya banyak sahabat yang sayang sama gw . Sayang bangeeet . Gw pun bingung, kenapa gw lebih cepat punya banyak teman dari luar sana ..

Apakah temen2 gw dikelas tidak menyukai sifat gw ? memang gw sedikit pelit , tapi itupun pelit dalam ulangan . Apa salahnya cobaa ? dari hal hal kecil , rasanya gw hanya dimanfaatkan jika ada butuhnya aja . Dan ketika gw mau minta tolong , tak ada satupun yang mw ngebantuin gw , Kecuali sahabat sebangku gw .

Gw sedihhhh bangeet , dan rasanya gwe pengen kembali ke masa lalu ..karena gw bersyukur banget punya sahabat dari kecil sampai segede gini , mereka masih sayang sama gw ;(

Nahhh .... itulah masalah gw yang pengen gwe pecahkan ..

Ada yang bisa ngebantuin gw untuk keluar dari masalah ini ??

mendengar curhatan anak

Saya selalu percaya, mendengar adalah sebuah kebaikan. Memberi telinga kita kepada orang lain, menampung cerita, adalah sebuah amal yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Mendengar penting dilakukan manusia kepada sesama. Apalagi bagi anak-anak. Mereka pun manusia yang harus didengar suaranya. Saya percaya, mendengar cerita anak-anak (dan remaja) adalah salah satu cara mudah untuk menyelamatkan anak bangsa.
Sebutlah istilah mendengar cerita dengan kata ‘curhat’. Anak dan remaja dalam usianya yang penuh gejolak perkembangan, tentu menyimpan segudang cerita yang ingin dicurhatkan. Cerita ini dapat disimpan dalam hati mereka, atau dapat mereka bagi ke teman sebayanya. Orang tua mendapat kewajiban utama sebagai orang yang harus tahu curhat anak. Mendengar curhat anak adalah wujud kasih sayang mendasar sebab itu adalah bentuk perhatian sederhana yang tulus.
Tidak hanya orang tua yang bisa mendengar cerita anak. Setiap dari kita pun bisa, sebab tidak ada alasan tidak bisa, kecuali memang tidak ingin peduli pada anak. Kita bisa dengar cerita adik kecil kita, saudara sepupu, adik pacar, anak tetangga, anak penjual koran, murid sekolah, atau pengamen anak di jalanan. Ketika niat mendengarkan sudah ada, kita tinggal ciptakan sapaan, kemudian pertanyaan.

Dengan mendengar curhat anak, kita bisa mengetahui pengalaman yang telah dilaluinya. Cerita bisa menjawab pertanyaan guru di kelas, di-bully teman sekolah, tak bisa main bola di tanah lapang, atau kurang setoran ke bos ngamen, bisa kita peroleh ketika curhat. Telinga yang kita pasang akan sangat berharga untuk anak sebab mereka mendapat tempat untuk mengeluarkan masalahnya. Keluhan anak itu merupakan cerminan masalah negara pula. Anak menjadi subjek utama di sekolah. Kebaikan dan kekurangan yang terjadi dalam sistem sekolah bisa dilihat dalam cerita anak. Tidak tersedianya lahan bermain atau tidak punya waktu bermain sebab harus bekerja di jalan juga merupakan masalah sosial negara. Seringkali kita mendapati permasalahan sosial pendidikan anak yang diangkat dalam wacana pemerintahan bersumber dari pemikiran orang dewasa saja. Padahal masalah sebenarnya harus kita dengar langsung dari anak sebab merekalah yang mengalami keterlibatan utama.
Jadilah teman curhat anak. Saat anak mendapat rasa nyaman, pembelajaran dapat masuk dengan lebih mudah. Kita semua tentu percaya, belajar dapat dilakukan di mana saja, tak harus didapat di bangku sekolah formal. Pelajaran yang tertulis dalam rangka akademis pun bisa disisipkan di sesi curhat anak itu. Nasihat hidup bisa dibagi saat mengobrol sebelum tidur. Kisah ilmu alam atau matematika bisa diceritakan ketika jalan-jalan. Saya pikir, kuncinya adalah bersabar untuk jadi teman anak. Hubungan yang terbuka dan akrab antara anak-anak (dan remaja) dengan orang dewasa akan memudahkan kita menyelamatkan keseluruhan bangsa Indonesia.

curhatan cinta

Apa sih masalah remaja masa kini?
Cinta?
Teman?
Sekolah / kuliah ?
Yah, yang di atas semua benar kok. Karena saya sedang mengalami salah satunya juga. Hehehe. Saya bukan orang dengan latar belakang psikologi. Jadi gag mungkin saya bisa ngomong panjang lebar tentang masalah remaja. Hanya saja, tadi sewaktu saya muncul dengan muka ditekuk berlipat-lipat di depan teman-teman seperjuangan saya, ada yang langsung menyeletuk, “Kena masalah remaja neh. . .”
Masalah-masalah seperti ini, yang kadang dianggap remeh oleh banyak orang, bisa saja menjadi penting bagi sebagian orang yang lain. Contohnya saja di Jepang. Jepang termasuk negara yang memiliki tingkat bunuh diri yang cukup lumayan *sok tau mode ON*. Dan kebanyakan adalah karena mereka memiliki masalah dengan teman seperti digencet atau istilah kerennya bullying, atau memiliki masalah dengan pelajaran karena tingginya tingkat persaingan disana. Bahkan di Solo kota saya tercinta pun, pernah ada orang yang berniat bunuh diri karena ditolak cintanya. Bah, gila benar.
Jadi akankah hal-hal seperti ini dibiarkan? Para orang tua yang anaknya masih remaja, perhatikan mereka ya. . . Karena mereka yang kelihatannya tak punya masalah mungkin saja memendam sesuatu. Tidak harus dengan menginterogasi kami yang masih  imut-imut ini *hueek :D * tapi dengan mendampingi dan selalu ada saat dibutuhkan. Begitu juga kalo saodara-saodara punya teman. Perhatikan mereka. Karena tak semua orang bercerita dengan cablaknya permasalahan mereka. Setertutup apapun, sebenarnya tak ada orang yang suka sendirian kan. Selalu ucapkan you’ll never walk alone *bukan jargon klub sepakbola hlo* pada orang-orang yang kita sayangi. Karena kita tak kan pernah tahu apa yang akan terjadi

Kamis, 17 November 2011

curhat masalah anak sekolah

Curhat masalah anak di sekolah
11/04/2006
----- Original Message -----

From: DA

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Akhirnyaa....bisa cuthat juga..

Kuping ini rasanya panas kalau dengar ada orang yang ngomongin masalah anak autis. Seminggu yang lalu, di TK anakku, ada sekumpulan ibu2 yang ngomongin si 'A' (anak autis di kelas anak mereka, yang menurut mereka sangat mengganggu, dan tidak seharusnya bersekolah di TK itu.

Hari jumat kemarin, ada satu orang tua murid yang marah2 sama pengasuhnya Izzan juga guru kelasnya, karena anaknya digigit sama Izzan. Sampai bilang bahwa dia akan keluarkan anaknya kalau Izzan enggak keluar dari sekolah itu. Sebagai ortu, saya sangat mengerti perasaan si ibu itu. Sabtu kemarin saya datang ke sekolah untuk bicara sama guru kelasnya Izzan, ternyata menurut gurunya, anak yang digigit itu memang pernah digigit sama Izzan beberapa hari yang lalu, karena dia ganggu Izzan. Terakhir tangannya memang biru, tapi itu karena dia gigit sendiri tangannya.

Walah.... Bingung musti gimana..

Ada yang punya pengalaman atau saran buat saya?

Terima kasih.

Sifat Jujur

Islam sebagai agama terakhir, mempunyai konsep akhlaq yang begitu indah untuk diterapkan, semua merupakan pancaran cahaya petunjuk  Al Qur’an, yang diejawantahkan dengan perilaku Rasulullah Saw. dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah Saw. yang digambarkan oleh Sayyidah ‘Aisyah Ra. bahwa akhlaqnya adalah Al Qur’an menjadi teladan bagi umat manusia dalam semua sisi kehidupan. Mutiara-mutiara akhlaq yang diajarkan Islam dapat kita lihat juga pada perilaku para sahabatnya yang telah digembleng oleh Rasulullah Saw, demikian juga para salafuna al shalih generasi setelahnya. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq”.
Diantara akhlaq yang diajarkan kepada kita adalah sifat jujur dan amanah, berikut ini akan kita paparkan beberapa hal yang berkaitan dengan sifat jujur dan amanah, semoga kita dapat menghiasi diri kita dengan sifat ini dan sifat-sifat terpuji lainnya. Amin
Definisi sifat jujur dan amanah
Jujur dalam bahasa arab al shidqu yang berarti kesesuaian sebuah berita dengan realita. Sedangkan dalam istilah jujur berarti kesesuaian perkataan dan perbuatan seorang hamba secara lahir terhadap batinnya dengan catatan tidak bertentangan dengan prinsip-prnsip syari’at.
Sedangkan amanah secara bahasa berasal dari kata "amânah" lawan dari "khiyânah" (pengkhianatan). Dalam istilah amanat berarti setiap tanggung jawab yang dipasrahkan kepada seseorang untuk ditunaikan, baik berupa tugas-tugas agama seperti ibadah, maupun titipan.
Urgensi sifat jujur dan kedudukannya dalam Islam
Kejujuran sangat dijunjung tinggi dalam Islam, setiap muslim harus memiliki sifat ini, sebagaimana yang dituturkan oleh Allah Ta’ala dalam Alqur’an dan ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam hadits-haditsnya sebagai berikut:
- Allah Swt. mewajibkan kepada setiap muslim untuk memiliki sifat jujur, sebagaimana firman Allah Swt:
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. at Taubah: 119)
Demikian juga Rasulullah saw. telah mewajibkan kejujuran kepada kita semua, dalam sebuah hadits shahih rasulullah saw. bersabda:                              اضمنوا لي ستا من أنفسكم، أضمن لكم الجنة، اصدقوا إذا حدثتم...
Jaminlah kepadaku enam perkara dari diri kalian, niscaya aku akan menjamin bagi kalian surga, jujurlah jika kalian berbicara…”. (HR. Hakim)
-  Allah Swt. mensifati diriNya dengan sifat jujur:
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah ?” (QS. an nisa’: 87)
- Allah Swt. mensifati para rasulNya dengan sifat jujur, seperti dalam firman Allah:
Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang jujur lagi tinggi”. (QS. Maryam: 50)
-  Allah menjadikan sifat jujur sebagai tanda-tanda orang-orang shaleh, Allah Swt. berfirman:
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS. Al Ahzab: 23)
[1208] Maksudnya menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya.
- Nabi saw. menjadikan kejujuran sebagai asas dari setiap kebaikan, sebagaimana sabda rasulullah saw:
إن الصدق يهدي إلى البر...
“Sesungguhnya kejujuran akan menghantarkan kepada kebaikan…” (HR. Bukhari)
- Allah Swt. menjadikan kejujuran sebagai sebab keselamatan dari adzab hari kiamat dan membawanya masuk surga. sebagaimana firman Allah:
33. “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.
34. mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah Balasan orang-orang yang berbuat baik,
35. agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
Nabi saw. juga bersabda:
ما من أحد يشهد ألا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله r صادقا من قلبه، إلا حرمه الله على النار".
Tiada seorang yang menyaksikan bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah saw dengan penuh kejujuran dari hatinya, kecuali diharamkan oleh Allah terhadap neraka”. (HR Bukhari)
- Nabi saw. memberitakan bahwa kejujuran itu memberikan ketenangan karena sesuai dengan fitrah, sedangkan kebohongan akan mengakibat kebimbangan karena bertentangan dengan fitrah, rasulullah saw. telah bersabda:                          "دع ما يريبك إلى ما لا يريبك، فإن الصدق طمأنينة، والكذب ريبة".
Tinggalkanlah hal yang membimbangkan kalian menuju sesuatu yang tidak membimbangkan, sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan, dan kebohongan adalah kebimbangan”. (HR Turmudzi; hadits hasan shahih)
- kejujuran merupakan sebab dibangkitkannya seseorang bersama para Nabi, orang-orang syahid, dan orang-orang shaleh, tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi dari ini. Allah swt. Berfirman:
69. “Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.
70. yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui”. (QS. An Nisa’: 69-70)
[314] Ialah: orang-orang yang Amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan Inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.
Secara umum, kejujuran akan membukakan pintu kebaikan bagi pemilik sifat ini, yang pada akhirnya akan menghantarkan seseorang menggapai ridha Allah dan surgaNya. Disamping itu kejujuran akan dapat menyebabkan kemajuan masyarakat muslim, dengan demikian akan menjadi teladan di mata masyarakat non muslim, yang pada gilirannya akan membukakan pintu bagi mereka untuk masuk Islam, sebagaimana yang terjadi pada masyarakat di belahan asia, Afrika, dan Eropa.

Bentuk-bentuk kejujuran
Ada beberapa bentuk kejujuran yang sudah semestinya dimiliki oleh setiap muslim, yaitu:
1.       Kejujuran lisan (shidqu al lisan)
Kejujuran lisan yaitu memberitakan sesuatu sesuai dengan realita yang terjadi, kecuali untuk kemashlahatan yang dibenarkan oleh syari’at seperti dalam kondisi perang, mendamaikan dua orang yang bersengketa atau menyenangkan istri, dan semisalnya. Rasulullah saw. bersabda:
اضمنوا لي ستا من أنفسكم أضمن لكم الجنة: اصدقوا إذا حدثتم، وأوفوا إذا وعدتم، وأدوا إذا ائتمنتم، واحفظوا  فروجكم، وغضوا أبصاركم، وكفوا أيديكم".
Jaminlah kepadaku enam perkara dari diri kalian, niscaya aku menjamin bagi kalian surga: jujurlah jika berbicara, penuhilah jika kalian berjanji, tunaikan jika kalian dipercaya, jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan kalian, dan tahanlah tangan kalian”. (HR Hakim)
2.       Kejujuran niat dan kemauan (shidqu an niyyah wa al iradah)
Yang dimaksud dengan kejujuran niat dan kemauan adalah motivasi bagi setiap gerak dan langkah seseorang dalam semua kondisi adalah dalam rangka menunaikan hukum Allah Ta’ala dan ingin mencapai ridhaNya. Dalam hal ini Rasul saw. bersabda:                من طلب الشهادة صادقا أعطيها، ولو لم تصبه
Barang siapa menginginkan syahid dengan penuh kejujuran maka dia akan dikaruninya, meski tidak mendapatkannya”. (HR Muslim)
3.       Kejujuran tekad dan amal (shidqu al ‘azimah wa al ‘amal)
Jujur dalam tekad dan amal berarti melaksanakan suatu pekerjaan sesuai dengan yang diridhai oleh Allah Swt. dan melaksanakannya secara kontinyu. Allah Swt. Berfirman.
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS. Al Ahzab: 23)
[1208] Maksudnya menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya  .
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Baqarah: 177)
4.       Kejujuran dalam maqam-maqam agama
Kejujuran ini merupakan derajat yang paling tinggi, seperti kejujuran dalam khauf (takut kepada murka Allah), raja’ (berharap terhadap rahmat Allah), zuhud, ridha, tawakkal, cinta dan yang semacamnya. Allah Swt. berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al Hujurat: 15)
Urgensi amanat dan dalil-dalilnya
a. Menunaikan amanat termasuk melaksanakan perintah Allah Swt. dan RasulNya Saw.
Allah Swt. dan RasulNya Swt. di dalam Al Qur'an maupun sunnah banyak menganjurkan dan memerintahkan kita untuk menunaikan amanat, serta melarang kita untuk berkhianat. Karena termasuk perintah Allah, maka menunaikan amanat merupakan implementasi dari ketaqwaan seorang muslim kepada Allah Swt.
Di dalam Al Qur'an, Allah Swt. berfirman dalam surat an nisa' ayat: 58
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat."
Rasulullah Saw. telah bersabda:                        "أد الأمانة لمن ائتمنك ولا تخن من خانك"
"Tunaikan amanat kepada orang yang telah mempercayakan kepadamu, dan jangan mengkhiyanati orang yang telah mengkhiyanati kamu".
b. Allah akan memberikan kemudahan dan solusi dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi.
Karena menunaikan amanat merupakan implementasi dari ketaqwaan terhadap Allah Swt, maka seorang yang menunaikan amanat akan diberi Allah kemudahan dalam urusannya, dan solusi dari problem-problem yang dihadapinya, bahkan akan diberinya rizki tanpa diduga-duga. Ini sesuai dengan janji yang diberikan oleh Allah bagi orang yang bertaqwa, seperti dalam surat At thalaq ayat 2 dan3
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."
c. Menunaikan amanat menjadi standar dari kedekatan seseorang kepada Allah Swt.
Dalam surat al hujurat ayat: 13 Allah Swt. berfirman:

"Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal."
d. Surga dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa (termasuk menunaikan amanat)
Allah Swt. telah berfirman dalam surat Ali Imran ayat: 133:
* "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."
Bagaimana kita menuakan amanat?
Agar dapat menunaikan amanat-amanat dengan baik, kita harus bisa menundukkan hawa nafsu.
Rasullullah Saw. bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang diantara kamu sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”
Maka kita perlu selalu mengadakan introspeksi diri dan evaluasi, tidak hanya pada akhir tahun, akhir bulan, akhir hari, atau akhir jam saja, tapi setiap keluar masuknya nafas perlu kita evaluasi, apakah langkah kita sesuai dengan tuntunan Allah atau sebaliknya.
Umar Bin Khathab mengatakan: “Evaluasilah dirimu sebelum kalian semua dievaluasi dan timbanglah amal-amal kalian sebelum ditimbang untuk kalian”.
Amanat yang dipikul oleh manusia, sangat erat kaitannya dengan interaksi dengan Allah Swt, diri sendiri, manusia, dan interaksinya dengan alam di sekitarnya. Dalam menunaikan amanah, seorang mu’min selalu berharap agar seluruh gerak dan aktivitasnya menjadi penghambaan diri terhadap Allah untuk menggapai ridhaNya.
Dalam berinteraksi dengan Allah, amanat yang harus kita tunaikan adalah mengimani kebenaran ajaran-ajaranNya, meyakini bahwa ajaran-ajaran tersebut  demi kemaslahatan hamba-hambaNya, menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, atau yang kita kenal dengan taqwa.
Terhadap diri sendiri, amanat yang harus kita tunaikan adalah dengan memenuhi hak-hak diri kita, baik kebutuhan jasmani, rohani, maupun akal kita. Dengan menjaga kesehatan fisik, beribadah, belajar, dan hak-hak lainnya. Alangkah indahnya kalau kita mampu memenuhi hak-hak diri kita, memperkaya diri dengan kebaikan, siraman rohani, kedamaian, kejujuran dan selalu berdzikir kepadaNya.
Dalam interaksi dengan sesama manusia, amanah yang harus kita tunaikan adalah dengan memenuhi hak-hak saudara kita, baik yang bersifat materi maupun maknawi. Yang menjadi pemimpin dengan menjalankan kewajibannya secara maksimal, memperhatikan hak-hak orang yang dipimpin. Bagi rakyat yang dipimpin, dia punya tugas untuk mentaati pemimpinnya selagi tidak memerintahkan kemaksiatan, memberi nasehat jika tindakan-tindakannya menyimpang dari kebenaran, dan memberi kesaksian terhadap wakil-wakil rakyat yang memiliki kapabilitas, kepedulian dan komitmen untuk memperjuangkan kepentingan rakyat melalui pencoblosan dalam pemilu.
Demikian juga termasuk kategori amanat ini, melaksanakan tugas-tugas kantor dengan sebaik-baiknya, seorang bapak bertanggung jawab atas keluarganya, seorang ibu membantu suami dalam mendidik anak-anak, menjaga rumah dan sebagainya.
Menjadi amanat seorang mukmin juga terhadap sesama manusia, hak-hak kerabat, tetangga, teman dan saudara-saudara kita seiman. Saling menasehati dan tolong-menolong dalam kebaikan, membantu saudara-saudara kita yang sedang tertindas, baik bantuan moral maupun material, paling tidak kita doakan mereka dalam munajat-munajat kita kepada Allah Swt, saudara-saudara kita di Palestina, Moro, Checnya, Kasymir, di Indonesia dan di seluruh penjuru dunia. Sudahkah kita merasakan sakitnya saudara-saudara kita yang sedang tertindas, meneteskan air mata karena kesakitan mereka, sudahkan kita menginfaqkan sebagian harta untuk membantu mereka.
Sedang amanat yang harus kita tunaikan terhadap alam di sekitar kita, dengan memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan fungsinya, tidak menganiaya binatang, selalu teringat akan kebesaran Allah saat melihat ciptaanNya, teringat bahwa semua ciptaan Allah bertasbih kepadaNya, dan semuanya diciptakan untuk kepentingan manusia, Maha Suci Allah tidak sia-sia Engkau menciptakannya.
Hanya diri kita yang dapat mengevaluasi, sejauh mana amanat-amanat sudah kita tunaikan, sebelum dievaluasi oleh Allah di hari kelak. Hasil-hasil evalusi yang kita peroleh menjadi acuan bagi kita untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan maupun kesalahan yang kita perbuat. Dan tidak cukup dengan evaluasi atau muhasabah, tapi harus dilanjutkan dengan mujahadah, bersungguh-sungguh memperbaiki kekurangan dan kesalahan, bahkan ini yang paling penting, karena banyak orang tahu akan kesalahan-kesalahannya, tapi tidak mau memperbaiki, bahkan mengulangi kesalahan yang sama, atau melakukan kesalahan yang lebih parah dimasa-masa berikutnya.
Penutup
Maka mulai hari ini, kita ikrarkan dalam diri kita untuk menjadi orang yang jujur dan amanah dengan membuka lembaran baru, niat yang baru, semangat baru dan pola pikir yang baru pula, melangkah ke depan menuju jalan yang di ridhai oleh Allah Swt. Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin dialah orang yang beruntung, barang siapa hari ini sama dengan kemarin dialah orang yang tertipu, dan barang siapa hari ini lebih jelek dari kemarin dialah orang yang binasa. Wallâhu a’lam

Tidak mementingkan diri Sendiri

Pujangga W.H Auden menyindir, “kita berada di bumi sini untuk berbuat baik bagi sesama. Untuk apa sesama kita berada disini, saya tidak tahu”. Tak ada tim yang sukses kecuali pemain-pemainnya mendahulukan sesamanya dalam tim tersebut ketimbang diri sendiri. Tidak mementingkan diri sendiri itu tidak mudah, tetapi perlu.

Sebagai anggota tim, bagaimanakah anda kembangkan sikap tidak mementingkan diri sendiri? Mulailah dengan melakukan yang berikut:

1. Bersikaplah Murah Hati
St. Francis dari Assisi menyatakan,”semua sikap mengambil akan memisahkan anda dari sesama; semua sikap memberi akan menyatukan anda dengan sesama”, inti dari sikap tidak mementingkan diri sendiri adalah sikap murah hati. Itu tidak saja membantu menyatukan tim, melainkan juga membantu memajukan tim. Kalau para anggota tim bersedia memberikan diri mereka secara murah hati bagi tim, timnya siap meraih sukses.

2.Hindarilah Politik Internal
Salah satu bentuk sikap mementingkan diri sendiri yang paling buruk dapat dilihat pada orang-orang yang berpolitik dalam tim. Itu biasanya berarti memposisikan diri demi keuntungan mereka sendiri, terlepas dari bagaimana hal itu mungkin merusak hubungan-hubungan di dalam tim. Tetapi pemain-pemain tim yang baik lebih mengutamakan keuntungan rekan-rekan satu timnya ketimbang diri sendiri. Sikap tidak mementingkan diri sendiri seperti itu membantu rekan-rekan satu tim dan menguntungkan sang pemberi. Ilmuan luar biasa, Albert Einstein, pernah mengatakan, “seseorang baru mulai hidup ketika ia bisa hidup diluar dirinya sendiri”.

3.Perhatikanlah Kesetiaan
Kalau anda perlihatkan kesetiaan kepada orang-orang dalam tim anda, mereka akan membalasnya. Yang jelas demikianlah kasusnya dengan Kolonel Toosey. Berulang-ulang ia mempertaruhkan nyawanya demi orang-orangnya, dan akibatnya mereka bekerja keras, melayaninya dengan baik, dan menyelesaikan misi apapun yang diberikan kepada mereka – bahkan dalam keadaan yang paling sulitpun. Kesetiaan mendorong kesatuan, dan kesatuan melahirkan sukses tim.

4. Utamakanlah Kesaling-bergantungan Ketimbang Kemandirian
Di Amerika, orang-orang sangat menghargai kemandirian karena seringkali disertai dengan inovasi, kerja keras, dan kesediaan membela apa yang benar. Tetapi kemandirian yang keterlaluan adalah ciri-ciri sikap mementingkan diri sendiri, terutama kalau mulai membahayakan atau menghambat sesama. Seneca menyatakan, “Orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri, yang mengubah segalanya demi keuntungan diri sendiri, takkan dapat hidup bahagia. Anda harus hidup demi sesama anda kalau ingin hidup demi diri sendiri”.

Agar semakin tidak mementingkan diri sendiri, anda perlu:
Mempromosikan orang lain ketimbang diri sendiri
Mengambil peran yang bukan utama, dan
Memberi secara diam-diam