Islam sebagai agama terakhir, mempunyai konsep akhlaq yang begitu indah untuk diterapkan, semua merupakan pancaran cahaya petunjuk Al Qur’an, yang diejawantahkan dengan perilaku Rasulullah Saw. dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah Saw. yang digambarkan oleh Sayyidah ‘Aisyah Ra. bahwa akhlaqnya adalah Al Qur’an menjadi teladan bagi umat manusia dalam semua sisi kehidupan. Mutiara-mutiara akhlaq yang diajarkan Islam dapat kita lihat juga pada perilaku para sahabatnya yang telah digembleng oleh Rasulullah Saw, demikian juga para salafuna al shalih generasi setelahnya. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq”.
Diantara akhlaq yang diajarkan kepada kita adalah sifat jujur dan amanah, berikut ini akan kita paparkan beberapa hal yang berkaitan dengan sifat jujur dan amanah, semoga kita dapat menghiasi diri kita dengan sifat ini dan sifat-sifat terpuji lainnya. Amin
Definisi sifat jujur dan amanah
Jujur dalam bahasa arab al shidqu yang berarti kesesuaian sebuah berita dengan realita. Sedangkan dalam istilah jujur berarti kesesuaian perkataan dan perbuatan seorang hamba secara lahir terhadap batinnya dengan catatan tidak bertentangan dengan prinsip-prnsip syari’at.
Sedangkan amanah secara bahasa berasal dari kata "amânah" lawan dari "khiyânah" (pengkhianatan). Dalam istilah amanat berarti setiap tanggung jawab yang dipasrahkan kepada seseorang untuk ditunaikan, baik berupa tugas-tugas agama seperti ibadah, maupun titipan.
Urgensi sifat jujur dan kedudukannya dalam Islam
Kejujuran sangat dijunjung tinggi dalam Islam, setiap muslim harus memiliki sifat ini, sebagaimana yang dituturkan oleh Allah Ta’ala dalam Alqur’an dan ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam hadits-haditsnya sebagai berikut:
- Allah Swt. mewajibkan kepada setiap muslim untuk memiliki sifat jujur, sebagaimana firman Allah Swt:
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. at Taubah: 119)
Demikian juga Rasulullah saw. telah mewajibkan kejujuran kepada kita semua, dalam sebuah hadits shahih rasulullah saw. bersabda: اضمنوا لي ستا من أنفسكم، أضمن لكم الجنة، اصدقوا إذا حدثتم...
“Jaminlah kepadaku enam perkara dari diri kalian, niscaya aku akan menjamin bagi kalian surga, jujurlah jika kalian berbicara…”. (HR. Hakim)
- Allah Swt. mensifati diriNya dengan sifat jujur:
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah ?” (QS. an nisa’: 87)
- Allah Swt. mensifati para rasulNya dengan sifat jujur, seperti dalam firman Allah:
“Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang jujur lagi tinggi”. (QS. Maryam: 50)
- Allah menjadikan sifat jujur sebagai tanda-tanda orang-orang shaleh, Allah Swt. berfirman:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS. Al Ahzab: 23)
[1208] Maksudnya menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya.
- Nabi saw. menjadikan kejujuran sebagai asas dari setiap kebaikan, sebagaimana sabda rasulullah saw:
إن الصدق يهدي إلى البر...
“Sesungguhnya kejujuran akan menghantarkan kepada kebaikan…” (HR. Bukhari)
- Allah Swt. menjadikan kejujuran sebagai sebab keselamatan dari adzab hari kiamat dan membawanya masuk surga. sebagaimana firman Allah:
33. “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.
34. mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah Balasan orang-orang yang berbuat baik,
35. agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
Nabi saw. juga bersabda:
ما من أحد يشهد ألا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله r صادقا من قلبه، إلا حرمه الله على النار".
“Tiada seorang yang menyaksikan bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah saw dengan penuh kejujuran dari hatinya, kecuali diharamkan oleh Allah terhadap neraka”. (HR Bukhari)
- Nabi saw. memberitakan bahwa kejujuran itu memberikan ketenangan karena sesuai dengan fitrah, sedangkan kebohongan akan mengakibat kebimbangan karena bertentangan dengan fitrah, rasulullah saw. telah bersabda: "دع ما يريبك إلى ما لا يريبك، فإن الصدق طمأنينة، والكذب ريبة".
“Tinggalkanlah hal yang membimbangkan kalian menuju sesuatu yang tidak membimbangkan, sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan, dan kebohongan adalah kebimbangan”. (HR Turmudzi; hadits hasan shahih)
- kejujuran merupakan sebab dibangkitkannya seseorang bersama para Nabi, orang-orang syahid, dan orang-orang shaleh, tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi dari ini. Allah swt. Berfirman:
69. “Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.
70. yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui”. (QS. An Nisa’: 69-70)
[314] Ialah: orang-orang yang Amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan Inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.
Secara umum, kejujuran akan membukakan pintu kebaikan bagi pemilik sifat ini, yang pada akhirnya akan menghantarkan seseorang menggapai ridha Allah dan surgaNya. Disamping itu kejujuran akan dapat menyebabkan kemajuan masyarakat muslim, dengan demikian akan menjadi teladan di mata masyarakat non muslim, yang pada gilirannya akan membukakan pintu bagi mereka untuk masuk Islam, sebagaimana yang terjadi pada masyarakat di belahan asia , Afrika, dan Eropa.
Bentuk-bentuk kejujuran
1. Kejujuran lisan (shidqu al lisan)
Kejujuran lisan yaitu memberitakan sesuatu sesuai dengan realita yang terjadi, kecuali untuk kemashlahatan yang dibenarkan oleh syari’at seperti dalam kondisi perang, mendamaikan dua orang yang bersengketa atau menyenangkan istri, dan semisalnya. Rasulullah saw. bersabda:
اضمنوا لي ستا من أنفسكم أضمن لكم الجنة: اصدقوا إذا حدثتم، وأوفوا إذا وعدتم، وأدوا إذا ائتمنتم، واحفظوا فروجكم، وغضوا أبصاركم، وكفوا أيديكم".
“Jaminlah kepadaku enam perkara dari diri kalian, niscaya aku menjamin bagi kalian surga: jujurlah jika berbicara, penuhilah jika kalian berjanji, tunaikan jika kalian dipercaya, jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan kalian, dan tahanlah tangan kalian”. (HR Hakim)
2. Kejujuran niat dan kemauan (shidqu an niyyah wa al iradah)
Yang dimaksud dengan kejujuran niat dan kemauan adalah motivasi bagi setiap gerak dan langkah seseorang dalam semua kondisi adalah dalam rangka menunaikan hukum Allah Ta’ala dan ingin mencapai ridhaNya. Dalam hal ini Rasul saw. bersabda: من طلب الشهادة صادقا أعطيها، ولو لم تصبه
“Barang siapa menginginkan syahid dengan penuh kejujuran maka dia akan dikaruninya, meski tidak mendapatkannya”. (HR Muslim)
3. Kejujuran tekad dan amal (shidqu al ‘azimah wa al ‘amal)
Jujur dalam tekad dan amal berarti melaksanakan suatu pekerjaan sesuai dengan yang diridhai oleh Allah Swt. dan melaksanakannya secara kontinyu. Allah Swt. Berfirman.
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS. Al Ahzab: 23)
[1208] Maksudnya menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya .
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Baqarah: 177)
4. Kejujuran dalam maqam-maqam agama
Kejujuran ini merupakan derajat yang paling tinggi, seperti kejujuran dalam khauf (takut kepada murka Allah), raja’ (berharap terhadap rahmat Allah), zuhud, ridha, tawakkal, cinta dan yang semacamnya. Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al Hujurat: 15)
Urgensi amanat dan dalil-dalilnya
a. Menunaikan amanat termasuk melaksanakan perintah Allah Swt. dan RasulNya Saw.
Allah Swt. dan RasulNya Swt. di dalam Al Qur'an maupun sunnah banyak menganjurkan dan memerintahkan kita untuk menunaikan amanat, serta melarang kita untuk berkhianat. Karena termasuk perintah Allah, maka menunaikan amanat merupakan implementasi dari ketaqwaan seorang muslim kepada Allah Swt.
Di dalam Al Qur'an, Allah Swt. berfirman dalam surat an nisa' ayat: 58
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat."
Rasulullah Saw. telah bersabda: "أد الأمانة لمن ائتمنك ولا تخن من خانك"
"Tunaikan amanat kepada orang yang telah mempercayakan kepadamu, dan jangan mengkhiyanati orang yang telah mengkhiyanati kamu".
b. Allah akan memberikan kemudahan dan solusi dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi.
Karena menunaikan amanat merupakan implementasi dari ketaqwaan terhadap Allah Swt, maka seorang yang menunaikan amanat akan diberi Allah kemudahan dalam urusannya, dan solusi dari problem-problem yang dihadapinya, bahkan akan diberinya rizki tanpa diduga-duga. Ini sesuai dengan janji yang diberikan oleh Allah bagi orang yang bertaqwa, seperti dalam surat At thalaq ayat 2 dan3
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."
c. Menunaikan amanat menjadi standar dari kedekatan seseorang kepada Allah Swt.
Dalam surat al hujurat ayat: 13 Allah Swt. berfirman:
"Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal."
d. Surga dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa (termasuk menunaikan amanat)
Allah Swt. telah berfirman dalam surat Ali Imran ayat: 133:
* "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."
Bagaimana kita menuakan amanat?
Agar dapat menunaikan amanat-amanat dengan baik, kita harus bisa menundukkan hawa nafsu.
Rasullullah Saw. bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang diantara kamu sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”
Maka kita perlu selalu mengadakan introspeksi diri dan evaluasi, tidak hanya pada akhir tahun, akhir bulan, akhir hari, atau akhir jam saja, tapi setiap keluar masuknya nafas perlu kita evaluasi, apakah langkah kita sesuai dengan tuntunan Allah atau sebaliknya.
Umar Bin Khathab mengatakan: “Evaluasilah dirimu sebelum kalian semua dievaluasi dan timbanglah amal-amal kalian sebelum ditimbang untuk kalian”.
Amanat yang dipikul oleh manusia, sangat erat kaitannya dengan interaksi dengan Allah Swt, diri sendiri, manusia, dan interaksinya dengan alam di sekitarnya. Dalam menunaikan amanah, seorang mu’min selalu berharap agar seluruh gerak dan aktivitasnya menjadi penghambaan diri terhadap Allah untuk menggapai ridhaNya.
Dalam berinteraksi dengan Allah, amanat yang harus kita tunaikan adalah mengimani kebenaran ajaran-ajaranNya, meyakini bahwa ajaran-ajaran tersebut demi kemaslahatan hamba-hambaNya, menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, atau yang kita kenal dengan taqwa.
Terhadap diri sendiri, amanat yang harus kita tunaikan adalah dengan memenuhi hak-hak diri kita, baik kebutuhan jasmani, rohani, maupun akal kita. Dengan menjaga kesehatan fisik, beribadah, belajar, dan hak-hak lainnya. Alangkah indahnya kalau kita mampu memenuhi hak-hak diri kita, memperkaya diri dengan kebaikan, siraman rohani, kedamaian, kejujuran dan selalu berdzikir kepadaNya.
Dalam interaksi dengan sesama manusia, amanah yang harus kita tunaikan adalah dengan memenuhi hak-hak saudara kita, baik yang bersifat materi maupun maknawi. Yang menjadi pemimpin dengan menjalankan kewajibannya secara maksimal, memperhatikan hak-hak orang yang dipimpin. Bagi rakyat yang dipimpin, dia punya tugas untuk mentaati pemimpinnya selagi tidak memerintahkan kemaksiatan, memberi nasehat jika tindakan-tindakannya menyimpang dari kebenaran, dan memberi kesaksian terhadap wakil-wakil rakyat yang memiliki kapabilitas, kepedulian dan komitmen untuk memperjuangkan kepentingan rakyat melalui pencoblosan dalam pemilu.
Demikian juga termasuk kategori amanat ini, melaksanakan tugas-tugas kantor dengan sebaik-baiknya, seorang bapak bertanggung jawab atas keluarganya, seorang ibu membantu suami dalam mendidik anak-anak, menjaga rumah dan sebagainya.
Menjadi amanat seorang mukmin juga terhadap sesama manusia, hak-hak kerabat, tetangga, teman dan saudara-saudara kita seiman. Saling menasehati dan tolong-menolong dalam kebaikan, membantu saudara-saudara kita yang sedang tertindas, baik bantuan moral maupun material, paling tidak kita doakan mereka dalam munajat-munajat kita kepada Allah Swt, saudara-saudara kita di Palestina, Moro, Checnya, Kasymir, di Indonesia dan di seluruh penjuru dunia. Sudahkah kita merasakan sakitnya saudara-saudara kita yang sedang tertindas, meneteskan air mata karena kesakitan mereka, sudahkan kita menginfaqkan sebagian harta untuk membantu mereka.
Sedang amanat yang harus kita tunaikan terhadap alam di sekitar kita, dengan memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan fungsinya, tidak menganiaya binatang, selalu teringat akan kebesaran Allah saat melihat ciptaanNya, teringat bahwa semua ciptaan Allah bertasbih kepadaNya, dan semuanya diciptakan untuk kepentingan manusia, Maha Suci Allah tidak sia-sia Engkau menciptakannya.
Hanya diri kita yang dapat mengevaluasi, sejauh mana amanat-amanat sudah kita tunaikan, sebelum dievaluasi oleh Allah di hari kelak. Hasil-hasil evalusi yang kita peroleh menjadi acuan bagi kita untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan maupun kesalahan yang kita perbuat. Dan tidak cukup dengan evaluasi atau muhasabah, tapi harus dilanjutkan dengan mujahadah, bersungguh-sungguh memperbaiki kekurangan dan kesalahan, bahkan ini yang paling penting, karena banyak orang tahu akan kesalahan-kesalahannya, tapi tidak mau memperbaiki, bahkan mengulangi kesalahan yang sama, atau melakukan kesalahan yang lebih parah dimasa-masa berikutnya.
Penutup
Maka mulai hari ini, kita ikrarkan dalam diri kita untuk menjadi orang yang jujur dan amanah dengan membuka lembaran baru, niat yang baru, semangat baru dan pola pikir yang baru pula, melangkah ke depan menuju jalan yang di ridhai oleh Allah Swt. Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin dialah orang yang beruntung, barang siapa hari ini sama dengan kemarin dialah orang yang tertipu, dan barang siapa hari ini lebih jelek dari kemarin dialah orang yang binasa. Wallâhu a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar